Inilah Aturan Melawak Dalam Islam
Beberapa acara ini bisa menghadirkan tawa sehingga stres sanggup sedikit mereda. Apalagi kalau berkumpul atau melihat orang yang arif melawak, tentu gelak tawa semakin terbahak. Dengan candaan disertai mimik yang lucu, membuat acara tertawa semakin seru.
Orang yang arif melawak ternyata cukup kuat membuat orang disekelilingnya senang dengan candaannya. Namun, bagaimana berdasarkan pandangan Islam? Sebagai seorang muslim, sudah selayaknya mencari tahu bagaimana hukumnya. Berikut ulasannya.
Kemampuan melawak tidak dimiliki oleh banyak orang. Membuat orang yang melihat tertawa ternyata membutuhkan perjuangan dan kerja keras. Bahkan, sekarang panggung hiburan sudah menghadirkan program-program untuk mencetak para pelawak. Mereka yang bisa membuat orang tertawa dan terbahak paling keraslah yang akan menjadi top dan populer.
Lalu, bagaimana sebenarnya pandangan Islam terhadap acara melawak ini? Bukankah mereka membuat orang lain menjadi tertawa bahagia? Adanya mereka, bisa menghilangkan kepenatan karena bisa tertawa.
Rasulullah SAW dalam hadistnya pernah berkata: “Janganlah banyak tertawa! Sesungguhnya banyak tertawa akan mematikan hati.” HR At-Tirmidzi no. 2305
Dalam penggalan hadist lainnya Rasulullah SAW bersabda: “Seandainya kau mengetahui apa yang saya ketahui, kau benar-benar akan sedikit tertawa dan banyak menangis” . [HR. Muslim, no. 2359]
Hadist ini Beliau sampaikan tatkala bercerita wacana pengalamannya ketika melihat Surga dan Neraka.
Lantas, apakah dihentikan seseorang melawak dan membuat orang lain tertawa? Ternyata agama Islam tidak melarang umatnya untuk melawak. Bahkan Rasulullah SAW sering bercanda atau melawak. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, para teman pernah berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :
“Ya Rasulullah! Sesungguhnya engkau sering mencandai kami.”
Beliau pun berkata: “Sesungguhnya saya tidaklah berkata kecuali yang haq (benar). HR At-Tirmidzi no. 1990
Salah satu candaan Rasulullah SAW ialah sebagai berikut: Diriwayatkan dari Al-Hasan radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Seorang nenek renta mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nenek itu pun berkata, ‘Ya Rasulullah! Berdoalah kepada Allah biar Dia memasukkanku ke dalam surga!’ Beliau pun mengatakan, ‘Wahai Ibu si Anu! Sesungguhnya nirwana tidak dimasuki oleh nenek tua.’ Nenek renta itu pun pergi sambil menangis. Beliau pun mengatakan, ‘Kabarkanlah kepadanya bekerjsama perempuan tersebut tidak akan masuk nirwana dalam keadaan ibarat nenek tua. Sesungguhnya Allah ta’ala mengatakan: (35) Sesungguhnya kami membuat mereka (Bidadari-bidadari) dengan langsung. (36) Dan kami jadikan mereka gadis-gadis perawan. (37) Penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (QS Al-Waqi’ah) (HR At-Tirmidzi)
Rasulullah SAWA bercanda, namun tetap mengutamakan kejujurannya. Pasalnya, Islam membenci kedustaan dan kemunafikan dalam bergaya. Sehingga barang siapa yang memancing suasana biar semua tertawa walaupun dengan cara berdusta, maka ia terkena bahaya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya ada seorang hamba berbicara dengan suatu kalimat; tidak diucapkan kecuali untuk membuat orang lain tertawa, maka ia terhempas ke dalam jurang jahannam sedalam antara langit dan bumi. Dan sungguh terpelesetnya lisan, lebih berat daripada seseorang terpeleset kakinya”. Imam Muhammad at-Tibrizi
Dari Bahz bin Hakim dari bapaknya dari kakeknya berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Celakalah bagi seseorang yang bercerita dengan suatu cerita, biar orang lain tertawa maka ia berdusta, maka kecelakaan baginya, kecelakaan baginya. Imam at-Tirmdzi
“Seorang hamba tidak beriman dengan sempurna, hingga ia meninggalkan berkata bohong ketika bercanda dan meninggalkan debat walau ia benar.” (HR. Ahmad).
Di zaman sekarang seseorang berusaha keras untuk bisa membuat orang tertawa. Bahkan bahan-bahan materi untuk membuat orang terbahak sudah disiapkan sebelumnya. Namun, dalam candaannya tidak jarang yang tidak memperhatikan aturan. Sebagian dari mereka berbohong, bahkan mengolok-olok rekan atau dirinya sendiri.
Bahkan, ketika ini banyak komedian yang mengolok-olok agama Allah demi memancing orang lain bisa tertawa. Tidak jarang, mereka ialah seorang Muslim yang seharusnya melaksanakan hal tersebut.
“(65) Dan kalau kau tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan rasul-Nya kau selalu berolok-olok?” (66) Tidak usah kau minta maaf, Karena kau kafir setelah beriman. kalau kami memaafkan segolongan kau (lantaran mereka taubat), pasti kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka ialah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” (QS At-Taubah : 65-66)
Berdasarkan ayat ini, orang yang menghina pedoman Islam terancam untuk keluar dari agama Islam, disadari maupun tidak. Oleh karena itu, sebagai muslim jangan hingga kita menganggap remeh permasalahan-permasalahan ibarat ini.
Beberapa acara ini bisa menghadirkan tawa sehingga stres sanggup sedikit mereda. Apalagi kalau berkumpul atau melihat orang yang arif melawak, tentu gelak tawa semakin terbahak. Dengan candaan disertai mimik yang lucu, membuat acara tertawa semakin seru.
Orang yang arif melawak ternyata cukup kuat membuat orang disekelilingnya senang dengan candaannya. Namun, bagaimana berdasarkan pandangan Islam? Sebagai seorang muslim, sudah selayaknya mencari tahu bagaimana hukumnya. Berikut ulasannya.
Kemampuan melawak tidak dimiliki oleh banyak orang. Membuat orang yang melihat tertawa ternyata membutuhkan perjuangan dan kerja keras. Bahkan, sekarang panggung hiburan sudah menghadirkan program-program untuk mencetak para pelawak. Mereka yang bisa membuat orang tertawa dan terbahak paling keraslah yang akan menjadi top dan populer.
Lalu, bagaimana sebenarnya pandangan Islam terhadap acara melawak ini? Bukankah mereka membuat orang lain menjadi tertawa bahagia? Adanya mereka, bisa menghilangkan kepenatan karena bisa tertawa.
Rasulullah SAW dalam hadistnya pernah berkata: “Janganlah banyak tertawa! Sesungguhnya banyak tertawa akan mematikan hati.” HR At-Tirmidzi no. 2305
Dalam penggalan hadist lainnya Rasulullah SAW bersabda: “Seandainya kau mengetahui apa yang saya ketahui, kau benar-benar akan sedikit tertawa dan banyak menangis” . [HR. Muslim, no. 2359]
Hadist ini Beliau sampaikan tatkala bercerita wacana pengalamannya ketika melihat Surga dan Neraka.
Lantas, apakah dihentikan seseorang melawak dan membuat orang lain tertawa? Ternyata agama Islam tidak melarang umatnya untuk melawak. Bahkan Rasulullah SAW sering bercanda atau melawak. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, para teman pernah berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :
“Ya Rasulullah! Sesungguhnya engkau sering mencandai kami.”
Beliau pun berkata: “Sesungguhnya saya tidaklah berkata kecuali yang haq (benar). HR At-Tirmidzi no. 1990
Salah satu candaan Rasulullah SAW ialah sebagai berikut: Diriwayatkan dari Al-Hasan radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Seorang nenek renta mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nenek itu pun berkata, ‘Ya Rasulullah! Berdoalah kepada Allah biar Dia memasukkanku ke dalam surga!’ Beliau pun mengatakan, ‘Wahai Ibu si Anu! Sesungguhnya nirwana tidak dimasuki oleh nenek tua.’ Nenek renta itu pun pergi sambil menangis. Beliau pun mengatakan, ‘Kabarkanlah kepadanya bekerjsama perempuan tersebut tidak akan masuk nirwana dalam keadaan ibarat nenek tua. Sesungguhnya Allah ta’ala mengatakan: (35) Sesungguhnya kami membuat mereka (Bidadari-bidadari) dengan langsung. (36) Dan kami jadikan mereka gadis-gadis perawan. (37) Penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (QS Al-Waqi’ah) (HR At-Tirmidzi)
Rasulullah SAWA bercanda, namun tetap mengutamakan kejujurannya. Pasalnya, Islam membenci kedustaan dan kemunafikan dalam bergaya. Sehingga barang siapa yang memancing suasana biar semua tertawa walaupun dengan cara berdusta, maka ia terkena bahaya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya ada seorang hamba berbicara dengan suatu kalimat; tidak diucapkan kecuali untuk membuat orang lain tertawa, maka ia terhempas ke dalam jurang jahannam sedalam antara langit dan bumi. Dan sungguh terpelesetnya lisan, lebih berat daripada seseorang terpeleset kakinya”. Imam Muhammad at-Tibrizi
Dari Bahz bin Hakim dari bapaknya dari kakeknya berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Celakalah bagi seseorang yang bercerita dengan suatu cerita, biar orang lain tertawa maka ia berdusta, maka kecelakaan baginya, kecelakaan baginya. Imam at-Tirmdzi
“Seorang hamba tidak beriman dengan sempurna, hingga ia meninggalkan berkata bohong ketika bercanda dan meninggalkan debat walau ia benar.” (HR. Ahmad).
Di zaman sekarang seseorang berusaha keras untuk bisa membuat orang tertawa. Bahkan bahan-bahan materi untuk membuat orang terbahak sudah disiapkan sebelumnya. Namun, dalam candaannya tidak jarang yang tidak memperhatikan aturan. Sebagian dari mereka berbohong, bahkan mengolok-olok rekan atau dirinya sendiri.
Bahkan, ketika ini banyak komedian yang mengolok-olok agama Allah demi memancing orang lain bisa tertawa. Tidak jarang, mereka ialah seorang Muslim yang seharusnya melaksanakan hal tersebut.
“(65) Dan kalau kau tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan rasul-Nya kau selalu berolok-olok?” (66) Tidak usah kau minta maaf, Karena kau kafir setelah beriman. kalau kami memaafkan segolongan kau (lantaran mereka taubat), pasti kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka ialah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” (QS At-Taubah : 65-66)
Berdasarkan ayat ini, orang yang menghina pedoman Islam terancam untuk keluar dari agama Islam, disadari maupun tidak. Oleh karena itu, sebagai muslim jangan hingga kita menganggap remeh permasalahan-permasalahan ibarat ini.




