Khandaq dalam bahasa Persia berarti parit. Ya, pada perang tersebut Kota Madinah dibentuk parit sebagai bentuk pertahanan. Rasulullah SAW bahkan ikut bersama para sobat menggali parit tersebut.
Perang ini terjadi alasannya yaitu kemarahan Yahudi yang diusir dari Madinah oleh Rasulullah SAW. Mereka telah melanggar perjanjian sehingga dikeluarkan dari Madinah. Bangsa Yahudi Bani Nadhir kemudian mencari koalisi untuk mengalahkan umat Muslim. Seperti apa kisahnya?
Sejarah Perang Khandaq
Perang ini berlangsung pada bulan Syawal 5 Hijriah. Setelah pengusiran oleh Rasulullah SAW terhadap kaum Yahudi Bani Nadhir, para petinggi mereka berang dan menyiapkan koalisi dengan kaum yang juga menaruh dendam kepada Islam. Koalisi balasannya terbentuk antara kaum Yahudi Bani Nadhir-Quraisy, Ghathafan, Bani Murrah dan kaum Asyja untuk menyerang kaum Muslimin di Madinah.
Bani Nadhir dipimpin Sallam bin Abul Huqaiq, Huyay bin Akhtab dan Kinanah bin Rabi'. Abu Sufyan memimpin pasukan Quraisy, sedangkan kaum Ghathafan dipimpin Uyainah bin Hisn dari Bani Fazarah. Bani Murrah dipimpin oleh Al Harist bin Auf bin Abu Haritsah al Murri. Kaum kaum Asyja dipimpin oleh Mir'ar bin Rukhailah bin Nuwairah bin Tharif. Komando tertinggi dipegang oleh Abu Sofyan.
Mendengar itu, Rasulullah SAW eksklusif menyiapkan strategi. Musyawarah untuk mufakat dilakukan bersama sobat dilakukan untuk mencapai taktik yang disepakati. Akhirnya muncul saran dari Salman al Farisi perihal penggalian parit di bab utara Kota Madinah yang menjadi satu-satunya kanal Kota Madinah. Rasulullah SAW kemudian menyetujui tawaran tersebut.
Kaum Muslimin pun bergegas melaksanakan penggalian. Ulama berbeda pendapat perihal waktu penggalian ini yakni antara enam hingga 24 hari. Semangat semakin terpacu alasannya yaitu Nabi Muhammad SAW juga turut membantu. Setelah parit terbentuk, Rasulullah SAW memerintahkan perempuan dan belum dewasa untuk ditempatkan di Benteng terkuat Madinah milik Bani Haritsah.
Pasukan musuh yang tiba kemudian dibentuk kebingungan dengan taktik yang sudah dibuat. Terlebih mereka gres kali ini menghadapi musuh dengan pertahanan memakai parit. Melewati parit tanpa jembatan penyebrangan tentu berarti bunuh diri. Karena pasukan muslim akan dengan sangat gampang menghujamkan anak panah.
Semangat pasukan musrikin yang awalnya membara untuk menang sekarang ciut melihat taktik yang tidak biasa ini. Namun ditengah redupnya semangat pasukan tersebut, masih ada beberapa orang yang mencoba menerobos parit yang agak dangkal. Seperti Amr bin Abdi Wudd Al-Amiryyang berhasil melewati parit dengan kudanya dan eksklusif menantang duel. Ali bin Abi Thalib meladeni tantangannya dan berhasil menghunuskan pedang ke pundak Amr. Seketika itu, ia pun tewas.
Ternyata ada pula warga Madinah yang berkhianat dengan cara membuka tempat pemukiman di pinggir kota yang tidak digali menjadi parit. Pasukan musuh masuk dan sempat melaksanakan penyerangan di rumah Rasulullah. Beruntung, mereka sanggup cepat dipukul mundur oleh pasukan muslimin.
Setelah berlangsung 15 hari, perpecahan mulai muncul ditubuh kaum musrikin. Kaum Yahudi dari Bani Nadhir dan Quraizhah enggan berperang di hari Sabat. Sedangkan kaum Quraisy memaksa untuk tetap berperang. Quraisy pun merasa dikhianati kaum Yahudi. Akhirnya persengketaan pun terjadi, dan komplotan mereka balasannya porak-poranda.
Tidak hanya itu, Allah SWT juga menunjukkan pinjaman melalui pasukan angin. Udara menjadi lebih hirau taacuh dari sebelumnya. Bahkan, Allah juga mengirim angin putting beliung yang memporak porandakan perkemahan mereka. Pasukan Ahzab ini pun kabur mencari pertolongan. Pagi harinya, perkemahan mereka sudah kosong dengan kondisi luluh lantah. Semua perbekalan inipun diambil pasukan Muslimin sebagai rampasan perang.

Posting Komentar